Author Archives: Abu'z Zahra

WAKTU YANG TERLARANG UNTUK SHOLAT, DAN YANG DIBOLEHKAN

Larangan Waktu SholatOleh: Ust. Azmi Haqqy, Lc.

Tentang masalah ini ada beberapa riwayat yang menjelaskan sebagai berikut:

1) Riwayat Abu Sa’id Al Khudry RA (HSR. Muttafaq Alaih, Lihat: Shahih Bukhari: Hadits No. 586, dan Shahih Muslim: Hadits No. 827)

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ اَلشَّمْسُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ . وَلَفْظُ لمُسْلِمٍ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ اَلْفَجْرِ

“Dari Abu Sa’id Al Khudry RA dia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah I bersabda: Tidak ada Sholat setelah Sholat Shubuh sehingga Matahari (telah) terbit, dan tidak ada Sholat setelah Sholat Ashar sehingga Matahari (telah) terbenam.”
(HR. Muttafaq Alaih, dan pada lafadz bagi Imam Muslim: Tidak ada Sholat setelah Sholat Fajar)

Di dalam Riwayat ini menjelaskan larangan Sholat sbb:
– Setelah Sholat Shubuh,
– Setelah Sholat Ashar.

Baca Selengkapnya…..

Iklan

Jika ‘Ied dan Jum’at Bertemu

Ada beberapa riwayat yang terkait dengan pembahasan ini, di antaranya :

1.     Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى، وَعُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْوَصَّابِيُّ الْمَعْنَى، قَالَا: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّيِّ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mushaffaa dan ‘Umar bin Hafsh Al-Washaabiy secara makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Mughiirah Adl-Dlabbiy, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang ingin, maka tidak ada kewajiban Jum’at baginya. Karena sesungguhnya kita telah dikumpulkan” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1073].

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Maajah no. 1311, Al-Haakim 1/288, Al-Baihaqiy 3/318 no. 6288, Ibnul-Jaarud dalam Al-Muntaqaa 1/260 no. 302, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar 3/190 no. 1155, Al-Faryaabiy dalam Ahkaamul-‘Iedain hal. 211 no. 150, Al-Baihaqiy 3/318, dan yang lainnya; semuanya dari jalan Baqiyyah bin Al-Waliid yang selanjutnya seperti riwayat di atas.

Sanad riwayat ini adalah lemah, karena ‘an’anah Al-Mughiirah bin Miqsam Adl-Dlabbiy. Meskipun tsiqah, ia termasuk mudallis pada martabat ketiga [Thabaqaatul-Mudallisiin hal. 112 no. 107].
Baca Selengkapnya….

Wafatnya Nabiyullah Dawud ‘Alaihis-Salam

 

PENGANTAR

Hadis ini berkisah tentang wafatnya hamba shalih dan Nabi terpilih, Dawud ‘Alayhi Salam, juga seorang raja agung dan pemimpin yang ditaati. Malaikat maut masuk ke rumahnya tanpa izinnya, dia menunggu Dawud yang pulang dari bepergiannya. Dia mencabut nyawanya tanpa didahului penyakit yang menimpanya, tanpa musibah yang turun kepadanya. Ini mengandung koreksi terhadap berita tentangnya dalam Taurat dan pembebasan untuknya dari klaim para penulis Taurat bahwa orang- orang dekat Dawud membawa gadis cantik pada waktu Dawud sakit lalu wanita itu tidur di pangkuannya untuk memperoleh kehangatan.

NASH HADITS

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Nabi Dawud memiliki kecemburuan yang besar. Jika dia pergi pintu-pintu rumahnya dikunci. Tidak seorang pun yang datang kepada keluarganya sampai dia pulang.

Suatu hari dia keluar dan rumahnya dikunci. Maka datanglah istrinya untuk meneliti rumah, ternyata ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah rumah. Dia berkata kepada orang-orang yang ada di rumah, “Dari mana orang ini masuk, ke dalam rumah padahal ia terkunci? Demi Allah, kamu akan ditangkap oleh Dawud.”

Dawud pulang sementara laki-laki itu tetap berdiri di tengah rumah. Dawud bertanya, “Siapa kamu?” Orang itu menjawab, “Aku adalah orang yang tidak takut kepada raja, tidak ada sesuatu pun yang menolak aku.” Dawud berkata, “Demi Allah, kamu adalah Malaikat maut. Selamat datang kepada perintah Allah.” Maka Dawud berlari kecil di tempat nyawanya dicabut. Ketika urusan Dawud telah selesai, matahari pun terbit.

Sulaiman berkata kepada burung, “Naungilah Dawud.” Maka ia menaunginya sehingga bumi menjadi gelap bagi keduanya. Sulaiman berkata kepadanya, “Tariklah sayapmu satu per satu.” Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah menunjukkan bagaimana burung itu melakukannya. Dan Rasul Allah (Dawud) diambil, sementara pada hari itu yang lebih dominan memberi naungan adalah elang yang bersayap lebar.” Baca Selengkapnya…..

Inilah “Wahhabi” yang Sesungguhnya

wahhabi
Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.. Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??

Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??
Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko
Salah seorang Dosen itu berkata: “Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: “Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.
Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata Baca Selengkapnya…..

Ziarah Kubur yang Jauh dari Tuntunan Islam

Tuntunan Ziarah Kubur
Disusun oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah ditanya mengenai ziarah kubur yang disyariatkan.

Beliau rahimahullah menjawab,
Perlu diketahui bahwa ziarah kubur ada dua bentuk: ziarah kubur yang disyariatkan dan ziarah kubur yang jauh dari tuntunan Islam.
[Ziarah Kubur yang Disyariatkan]

Contoh dari ziarah kubur yang disyariatkan adalah mendoakan si mayit, sebagaimana dibolehkan juga melaksanakan shalat jenazah untuknya.
Dasar dari hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur Baqi’ dan kubur pada syuhada’ Uhud.
Kemudian beliau mengajari para sahabatnya, jika mereka menziarahi kubur hendaklah membaca do’a:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِين نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ

Baca Selengkapnya…