Arsip Blog

Jika ‘Ied dan Jum’at Bertemu

Ada beberapa riwayat yang terkait dengan pembahasan ini, di antaranya :

1.     Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى، وَعُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْوَصَّابِيُّ الْمَعْنَى، قَالَا: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّيِّ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mushaffaa dan ‘Umar bin Hafsh Al-Washaabiy secara makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Mughiirah Adl-Dlabbiy, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang ingin, maka tidak ada kewajiban Jum’at baginya. Karena sesungguhnya kita telah dikumpulkan” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1073].

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Maajah no. 1311, Al-Haakim 1/288, Al-Baihaqiy 3/318 no. 6288, Ibnul-Jaarud dalam Al-Muntaqaa 1/260 no. 302, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar 3/190 no. 1155, Al-Faryaabiy dalam Ahkaamul-‘Iedain hal. 211 no. 150, Al-Baihaqiy 3/318, dan yang lainnya; semuanya dari jalan Baqiyyah bin Al-Waliid yang selanjutnya seperti riwayat di atas.

Sanad riwayat ini adalah lemah, karena ‘an’anah Al-Mughiirah bin Miqsam Adl-Dlabbiy. Meskipun tsiqah, ia termasuk mudallis pada martabat ketiga [Thabaqaatul-Mudallisiin hal. 112 no. 107].
Baca Selengkapnya….

Iklan

Ziarah Kubur yang Jauh dari Tuntunan Islam

Tuntunan Ziarah Kubur
Disusun oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah ditanya mengenai ziarah kubur yang disyariatkan.

Beliau rahimahullah menjawab,
Perlu diketahui bahwa ziarah kubur ada dua bentuk: ziarah kubur yang disyariatkan dan ziarah kubur yang jauh dari tuntunan Islam.
[Ziarah Kubur yang Disyariatkan]

Contoh dari ziarah kubur yang disyariatkan adalah mendoakan si mayit, sebagaimana dibolehkan juga melaksanakan shalat jenazah untuknya.
Dasar dari hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur Baqi’ dan kubur pada syuhada’ Uhud.
Kemudian beliau mengajari para sahabatnya, jika mereka menziarahi kubur hendaklah membaca do’a:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِين نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ

Baca Selengkapnya…

Syubhat-Syubhat Para Pendukung Bid’ah Hasanah

Bid'ah(Imam Syafii mendukung bid’ah hasanah??)

Syubhat pertama :

Mereka berdalil dengan perkataan beberapa ulama yang mengesankan dukungan terhadap adanya bid’ah hasanah.
Diantaranya adalah perkataan Imam As-Syafi’i dan perkatan Al-Izz bin Abdissalam rahimahumallah.
Adapun perkataan Imam As-Syafi’i maka sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dengan sanad beliau hingga Harmalah bin Yahya-,

ثَنَا حَرْمَلَة بْنُ يَحْيَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِي يَقُوْلُ : البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ، وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ : نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ
Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

Sebelum menjelaskan maksud dari perkataan Imam As-Syafii ini apalah baiknya jika kita menelaah definisi bid’ah menurut beberapa ulama, sebagaiamana berikut ini: Baca Selengkapnya…..